Photograpreneur

image

Ada dua pilihan bagi teman sebagai fotografer, bekerja dan menerima gaji, atau berwirausaha dan menghasilkan sendiri pendapatannya. Jika memilih untuk di gaji, usahanya adalah bagaimana agar gaji cepat naik, dan perusahaan menentukan gaji yang anda terima. Jika memilih untuk berwirausaha,

maka tentukanlah sendiri mau berapa anda punya penghasilan.

Bagi kebanyakan teman umumnya memilih bekerja dulu dan digaji baru kemudian usaha sendiri intinya cari pengalaman dulu. Tidak salah memang tapi bisa diakui bahwa sebagian besar pasti bercita-cita usaha sendiri. Cari pengalaman katanya, ya tapi untuk berapa lama? Belum lagi bisa menentukan kapan akan memulai, masa kerja yang cukup lama itu bukan menjadi pembekalan malah sebaliknya menjadi pemberat, penunda, penanti-dulu ahh, dengan berbagai alasan.

Adalah hak masing2 pribadi untuk memilih nasibnya sendiri. Kita disini tidak ingin membahas pilihan untuk bekerja (akan dibahas di artikel lain) melainkan bagaiman seorang fotografer mempersiapkan dirinya jika akan terjun sebagi entrepreneur.

Pengalaman memang perlu bahkan multlak harus  ada, ketika skill anda teruji terlatih dengan baik maka akan menjadi guru terbaik yang akan mengawal perjalanan anda. Tapi tahukah kamu bahwa pengalaman di tempat kerja sedalam apapun kamu tekuni umumnya hanya akan mengisi seperempat persiapan sesungguhnya. Karena sebagian besar pengalama  saat terjun langsung adalah pembekalan sesungguhnya, sebagian lagi adalah pengetahuan kamu dalam hal entrepreneurship atau kewirausahaan.

Dengan demikian memiliki skill dan punya alat sendiri, itu baru sebagian kecil persiapan yang harus dipenuhi. Pengetahuan kita dalam hal kewirausahaan tentunya masih nol jika kita tetap menjadi pekerja, karena perusahaan tentunya menutup hal-hal yang menyangkut cara penjualan, strategi penawaran, prospekting pasar, persaingan, investasi planning, mengatur keuangan, management usaha dsb.

Jadi kalau kamu bermodalkan alat saja, itu nekad namanya meskipun kamu sudah mengantongi order untuk beberapa waktu kedepan, belumlah cukup karena yang namanya usaha itu harus bergulir, beputar, berkembang. Jika saat ini kita sedang ada job, maka PR kita saat ini juga adalah memikirkan job kita selanjutnya. Bukan sibuk dengan job yang ada berkutat sampe job beres dan terima bayaran kemudian bengong harus cari job kemana.

Buat yang kebanjiran job juga punya PR loh. Pada saat job banyak tentu butuh pendanaan untuk biaya produksi yang cukup. Pada saat ada pembayaran tentu kita akan putar lagi untuk modal job lainnya. Nah pada saat uang sudah berputar seperti itu kita jangan terjebak dengan mana modal dan mana laba. Bisa-bisa job banyak malah banyak hutang sementara labanya gak jelas kemana. Maklum kita gak pernah terpikir perlu belajar keuangan, cashflow, HPP, apalagi ditambah cicilan kredit atau pinjaman.

Bukan maksud mengecilkan niat teman-teman, tapi marilah befikir logis jangan emosional, keburu nafsu ingin meninggalkan pekerjaan, punya usaha sendiri, dendam dengan kondisi yang ada. Kalau akhirnya dijalankan dan kandas, malah mungkin kita jadi trauma untuk bercita-cita mandiri. Padahal itu niat mulia, gak percaya? Pemerintah kita sedang giat-giatnya loh membangun jiwa entrepreneurship dikalangan genersi muda dengan yang namanya UKM atau UMKM bahkan dunia perbankan juga mendukung masalah perkreditan buat sektor ini.

Memang mental seorang entrepreneur adalah jangan menunda, ini harus disikapi dengan bijak. Karena kita matang dipekerjaan dengan segala hormat saya katakan ketika kita akan terjun maka kita akan berkutat dibawah market yang kita hadapi sekarang, dibawah segment pasar yang kita jumpai sekarang, dibawah standart harga yang perusahaan kita jual. Pertanyaanya siapkah kita turun derajat prestis dari posisi yang diciptakan perusahaan dengan jabatan yang kita sandang? Saya berkeras menyatakan ini supaya kamu tahu persis dan yakin dengan pilihan kamu.

Kalau kamu sudah menyadari konsekuensi diatas artinya satu tahapan pembentukan mental entrepreneur terbentuk. Karena seorang wirausaha tidak mudah cengeng karena satu kegagalan. Satu kali jatuh, satu resiko, teman bukan jatuhnya yang harus dipikirkan tapi berapa kali bangkit itulah prinsipnya. Contoh sebetulnya gak perlu jauh-jauh bos kamu sekarang pun adalah seorang entrepreneur, nilailah sendiri perjuangan, keberhasilan, dan kegagalan yang ia alami. Kita cendrung tidak membuka mata akan kenyataan ini, maka bercita-citalah menjadi pengusaha yang jauh lebih baik, lebih ideal, lebih apapun yang kamu rasa tidak puas dari boss kamu sekarang.

Pesan Penulis
Jika anda setuju adanya manfaat dari tulisan ini, mohon berikan atensi dengan cara klik Like atau share lebih baik lagi jika anda mengirim comment dibawah ini karena respon anda adalah energi buat penulis demi fotografi di negri ini.
TERIMA KASIH

Advertisements

About avatarfotografi


2 responses to “Photograpreneur

  • avarfotografi

    Komen di sini teman, karena komenmu adalah energi buat aku menulis demi profesi yang kita cinta ini.
    Untuk menghindari spam yg tdk bertanggung jawab mohon isi nama dan email anda utk aku moderator dijamin kerahasiaan Terima Kasih

  • Owner Pintar vs Owner Cerdas « AvatarFotografi

    […] mungkin saat ini anda sesungguhnya sedang menunda sesuatu padahal itulah mimpi yang kamu maksudkan (Baca : Photograpreanur). Bangkit dan sadarlah dari mimpi yang gak pasti itu bangun kepastian masa depan anda dengan memulai […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: