Portfoliographer or a Photographer

image

Perjalanan panjang yang kita lalui selama menekuni dunia fotografi menjadikan koleksi foto kita bertumpuk-tumpuk dan menghabiskan beratus giga byte hardisk. Sudah banyak rupiah yang kita habiskan untuk membiayai kesenangan ini.

Peralatan yang kita beli, sesi-sesi foto yang kita ikuti, seminar, workshop, bahkan biaya perjalanan keberbagai sudut bumi ini. Semua itu kita bayar dengan harga yang tidak murah, demi kepuasan rasa seni. Karena seni itu memang tak ternilai dengan uang, demikian ungkapan yang kita lontarkan ketika kita ditanya untuk apa semua itu kita tujukan?

Pertanyaan saya adalah kepuasan dengan cara bagaimana yang kita dapatkan? Apakah dengan banyaknya cap jempol dan comments di sosial media? Kita puas? Hebohnya peralatan yang kita bawa saat rally foto? Yang membuat teman kita minder karena gak punya? Kita puas? Tampil nyentrik dengan penampilan urban etnik ala seniman eksentrik? Kita puas? Pemotretan dilokasi yang tak banyak orang berkesempatan ambil, luar negri misalnya? Kita puas? Workshop bergengsi yang dicekoki distributor fotografi? Secara exclusive buat yang beli alat mereka? Kita puas?

Setelah mendapatkan gambar-gambar itu semua sebagai portfolio, kemana lagi semua itu akan berakhir? Kebanyakan dari kita tidak menyadari apa yang seharusnya dilakukan terhadap portfolio-portfolio itu selain mejeng di media online atau terpendam di folder-folder hardisk kita. Apakah ini tujuan kita menjadi fotografer, agar punya sebanyak mungkin portfolio. Dan menunggu pujian orang terhadap satu atau beberapa karya kita? Foto memang bisa menjadi media ekspresi kepribadian kita, sebagai citra berkesenian kita. Sayangnya foto bukanlah lukisan yang makin lama atau langka harganya akan makin menggila, atau anda mau membantah dengan foto sejarah yang juga bisa menjadi barang langka? Tapi lukisanlah yang meski direplikasi/ reproduksi orang tetap menghargai yang asli.

Bukan ingin mendeskreditkan teman-teman yang sudah cukup banyak mengoleksi portfolio, melainkan kita sadar memang semua itu ada masanya dan apabila anda menyadari inilah saatnya anda berfikir, untuk bagaimana caranya agar jiwa berkesenian anda itu dibiayai dengan karya itu sendiri bukan dengan gaji atau uang anda pribadi apalagi jatah keluarga dirumah. Inilah saatnya anda menjadi Photographer sebagai tujuan profesi bukan portfolio sebagai tujuan akhir. Bahkan mereka yang sekolah fotografi di luar negri pun di didik agar memiliki karya yang dihargai orang secara komersil dan setiap portfolio menjadi investasi anda kedepan.

Karena inilah dunia Avatorian teman! Disini kamu harus memilih avatar bagi dirimu sendiri agar kepuasan berkesenianmu tidak semu, dengan memilih sisi komersil mana yang sesuai dengan kesempatan yang kamu miliki. Sehingga apresiasi yang orang berikan terhadap karya-karya anda memberi dampak yang membangun kelangsungan kehidupan seni anda sendiri. Bukanlah hal tabu mencari apresiasi orang dengan mengangkat sisi komersil foto anda karena sebagai avatorian anda harus memanage sisi idealis anda dengan sisi komersil agar bisa bersinergi sehingga tidak putus ditengah jalan dan membuat anda hengkang dari profesi yang satu ini (baca: Menjadi Fotografer! Sebuah Cita-cita kah? ).

Dengan menjadi avatorian, kamu  bisa memilih untuk menjadi figur apa yang bisa kamu ciptakan sebagai sosok fotografer yang akan tampil profesional dan tetap mendapat apresiasi dari orang-orang disekitarmu. Sementara pasion yang kamu punya bisa terus tersalurkan bahkan bisa menjadi High Live buat sisi avatorian mu. Ketika kedua sisi ini bisa tampil berimbang, maka itulah kepuasan sejati dan sesungguhnya.

Menjadi avatorian bisa dengan mengelola bisnis fotografi commercials, retail, bridal, dokumentasi, freelancer pun pilihan baik untuk memulai. Nah kalau reputasimu cukup bagus kamu bisa dipercaya klien-klien besar. Itu kalau masuk di bidang praktis fotografi, karena bisa juga kamu memilih non praktis misalnya mendirikan sekolah fotografi, stock image, penyalur alat-alat fotografi dan sebagainya. Intinya jangan jadikan portfolio sebagai tujuan satu-satunya, dedikasikanlah dirimu untuk terus membangun dunia fotografi yang kita cintai ini.

Pesan Penulis
Jika anda setuju adanya manfaat dari tulisan ini, mohon berikan atensi dengan cara klik Like atau share lebih baik lagi jika anda mengirim comment dibawah ini karena respon anda adalah energi buat penulis demi fotografi di negri ini.
TERIMA KASIH

Advertisements

About avatarfotografi


6 responses to “Portfoliographer or a Photographer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: