Portraiture No Photography Yes

image

Fotografi lebih diminati kaum Adam secara kebanyakan karena kenyataan bahwa proses aktifitas ini lebih melingkupi hal-hal teknis dan fisik dibanding sisi seni foto itu sendiri.

Meskipun sebetulnya hal-hal yang bersifat teknis itu lebih banyak di awal ketika proses penguasaan belum matang, karena begitu kemampuan teknisnya meningkat dengan sendirinya perhatian kepada sisi seni foto tersebut semakin kuat menonjol dibanding masalah teknisnya. Bahkan biasanya aktifitas teknis dan fisik ini mulai kita delegasikan ke asisten fotografer.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, kendala teknis ini semakin lama semakin berkurang dengan kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi fotografi. Sehingga saat ini semakin banyak juga kaum Hawa yang berminat dan ikut terjun di arena profesional fotografi.

Banyak jenis fotografi yang bisa menjadi pilihan untuk dikuasai sesuai minat dan kemampuan juga bakat dari masing-masing orang. Diantaranya yang cukup banyak diminati seperti fotografi fashion, bridal, flora fauna, landscapes, architecture, sport, journalism, product, still life, art and culture, foods, baby, family’s, wedding, documentary dan sebagainya.

Dari banyaknya bidang fotografi yang membutuhkan totalitas ketika kita tekuni, banyak diantara kita tidak bisa menyangkal bahwa justru memotret oranglah yang diakui banyak menuntut kesungguhan dan kesabaran yang tinggi jika ingin digeluti. Tidak hanya kemampuan teknis yang baik yang harus dikuasai tapi karena objeknya manusia dan menuntut interaksi baik secara verbal, fisik dan psikologis, sehingga tak banyak fotografer sanggup bertahan dan memiliki pasion dibidang portraiture ini. Berbeda dengan foto fashion yang objeknya juga manusia, tapi karena objeknya adalah model yang juga adalah sebuah profesi dan memang dipersiapkan untuk memberikan performance sebaik mungkin dalam pemotretan, sehingga tututan untuk si fotografer lebih pada hal directing saja dan sang model akan memberikan ekspresi sesuai konsep yang ditentukan.

Terbukti ketika seorang fotografer memiliki portofolio yang cukup memukau pada koleksi foto modelnya, tapi menemukan kesulitan ketika memotret temanya sendiri, atau saudaranya bahkan ketika memotret keluarganya sendiri. Hal ini terjadi karena memang ketika memotret orang biasa (baca: bukan model), kemampuan non teknis menjadi lebih menonjol porsinya dalam penggarapan. Sehingga jika ini diabaikan hasil yang didapat tidak akan optimal bahkan memberi kesan sebaliknya pada kondisi objek yang difoto.

Apalagi secara gender laki-laki cenderung kurang mampu mengandalkan kemampuan verbalnya dalam komunikasi. Mereka lebih condong untuk bersikap spontan/ direct dalam berbicara dan kurang memperhitungkan faktor emosional tapi tekun dengan hal-hal yang bersifat teknis dan sistematik. Sebaliknya bagi kaum wanita malah cendrung selalu melibatkan perasaan emosional dalam berkomumikasi tapi kurang perhatian dengan masalah teknis. Jadi sebetulnya pemotretan portraiture seperti foto family, baby, glamour, dan sejenisnya lebih cocok dilakukan oleh kaum Hawa. Sedangkan kenyataan yang terjadi di studio-studio foto selama ini justru sulit mendapatkan fotografer wanita. Atau bahkan menganggap urusan pekerjaan foto studio itu urusan laki-laki.

Dengan begitu sudah seharusnya bagi fotografer yang terjun di pemotretan portraiture ini memperdalam ketrampilan komunikasi mereka dan mengetahui cara pendekatan psikologis emosional atau disebut juga dengan People’s Skills. Ini adalah sebuah kemampuan untuk bisa berinteraksi dengan berbagai macam type orang, karakter, sifat dan latar belakang budaya mereka. Bahkan menjadi lebih baik lagi apabila kemampuan berbahasa mereka pun ditingkatkan, baik bahasa asing maupun daerah. Karena begitu kendala bahasa ini muncul maka kemampuan yang lain pun menjadi kurang efektif.

Dengan tuntutan seperti ini tentu saja tidak setiap fotografer memilki minat yang sama dalam hal memilih objek foto, banyak juga yang lebih suka memotret benda mati atau landscape dan lainnya asal bukan mot ret orang. Tapi sebagai Avatorian ketika kita berada di lingkungan tertentu yang menjadi lingkup kerja kita, sudah pasti kita harus mengambil peran itu dengan tuntutan konsekuensinya.

Pesan Penulis
Jika anda setuju adanya manfaat dari tulisan ini, mohon berikan atensi dengan cara klik Like atau share lebih baik lagi jika anda mengirim comment dibawah ini karena respon anda adalah energi buat penulis demi fotografi di negri ini.
TERIMA KASIH

Advertisements

About avatarfotografi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: