Rahasia Motret Bagus Senior Gue

image

Bagaikan menyibak tabir misteri sulitnya para fotografer belajar motret dari para seniornya, karena sikap tertutup mereka terhadap para pandatang baru.

Seakan mencari kitab ilmu Kadikdayaan yang disembunyikan oleh kakak guru, jadi kita harus pandai-pandai mencuri ilmunya.

Percaya atau tidak inilah kenyataan yang dialami setiap fotografer dalam perjalanan karirnya di dunia Avatorian. Meskipun ada juga yang cukup beruntung bisa mendapatkan bimbingan dari para senior itu tapi yang cukup care dengan semangat belajar teman-teman adalah hanya segelintir saja.

Penulis sudah lama ingin mengangkat topik ini, karena cukup gemes juga kalo coba mengingat kejadian lama gimana rasanya harus pintar-pintar membangun komunikasi atau usaha pedekate dengan mereka agar sedikit bisa kecipratan ilmu gitulah. Setiap orang bisa berbeda cara tergantung seperti apa si senior itu dan bagaimana yang mau belajar ini mampu lakukan. Caranya bisa persuasif (membujuk, memuji dan mengiming-iming), simpatik (sok akrab kekeluargaan), serviletif (menghamba, mau disuruh-suruh asal diajari motret), picing (ngintip, kalau gengsi bertanya). Mungkin agak keterlaluan kedengarannya kalau harus seperti itu, tapi boleh buktikan sendiri kepada rekan-rekan anda karena ini nyata adanya.

Sebaliknya ada beberapa alasan kenapa para senior ini dianggap pelit ilmu, karena tidak semua memiliki motif yang berkonotasi negatif. Lain hal bagi mereka yang memulai karirnya bukan dari dunia kerja seperti kita mungkin dari club fotografi mungkin dari hobbies. Dimana dilingkungan ini justru lebih kondusif untuk pembelajaran karena umumnya ada suasana saling pamer kepandaian, pamer kamera, pamer karya. Tentunya lebih mudah untuk bertanya-tanya karena mereka merasa dianggap lebih jago motret. Tapi disini di dunia Avatorian, lain lagi ceritranya.

Alasan yang paling umum dianggap nyata adalah karena si senior ini takut kehilangan kedudukan karena disaingi orang baru. Kalau sampai yang baru ini lebih pintar, lebih kreatif, lebih produktif. Gimana nasibnya kalau sampai si Boss menggantikan posisinya. Tentu saja si senior ini gak akan rela membiarkan orang baru lebih maju, bahkan kalau perlu orang-orang ini dijegal jalannya jangan sampai dapat kesempatan.

Alasan umum lainya karena takut kehilangan penghasilan karena komisi terbagi lebih banyak orang, karena yang dianggap mampu untuk tugas kini bertambah jumlahnya. Kita tahu sebagian besar penghasilan fotografer adalah dari komisi ini.

Selain alasan diatas mungkin juga karena pengalaman yang dilalui si senior pada saat dulu masih belajar, adalah karena proses yang banyak perjuangan dan pengorbanan. Sehingga ia tak akan segampang itu mau menularkan pengetahuannya kepada orang lain. Kita tahu banyak intrik yang terjadi di dunia kerja para fotografer dan mungkin juga cukup lama waktu yang ia lalui ketika itu.

Jika bukan karena alasan yang berkonotasi negatif seperti diatas, bisa jadi karena si senior ini termasuk orang yang tidak pandai mengajari meskipun tidak pelit ilmu. Tapi karena harus ditanya dulu baru mau menjawab itu pun dengan jawaban yang sulit dicerna karena keterbatasannya, tidak salah kalau mereka juga dianggap sama dengan yang termasuk kriteria sebelumnya.

Ada lagi yang setiap dikorek ilmunya selalu menghindar untuk menjawab dengan dalih belum jago, belum pantas mengajari orang, masih belajar, belum ada apa-apanya dibanding si A si B dan seterusnya. Yang seperti ini memang gak pernah kelihatan serius kalo di tanya jadi kita berfikir mereka ini berlagak bodoh atau memang pelit ilmu.

Apapun kondisinya semua dikembalikan lagi kepada mereka yang dianggap senior ini, dengan cara apakah memandang kepentingan harus menutupi kebisaannya atau mau membagi pengetahuannya. Kalau masalahnya karena persaingan dunia kerja memangnya dengan menutup diri, ilmunya akan menjadi jaminan kelangsungan karirnya? Penghasilannya? Selama dia sendiri tidak belajar mengembangkan diri kepada orang lain, memangnya trend fotografi gak berubah? Teknologi gak semakin maju? Style gak mengikuti zaman? Selera gak berkembang? Jadi kalau berfikir ilmunya sudah yang paling hebat, sampai kapan tuh dianggap valid?

Kalau kita berbagi ilmu, gak bakalan tuh ilmu kita berkurang. Kita pun akan lebih merasa butuh belajar terus karena di atas langit masih ada langit. Yang namanya belajar itu butuh waktu dan pengalaman untuk diserap meskipun yang mengajari sudah maestro sekalipun waktulah yang membuat seseorang semakin matang. Jadi kalau sejalan dengan belajar dan mengajar, gak perlu merasa takut disaingi. Apalagi yang menentukan fotografi itu bekualitas bukan cuma pengetahuan teknisnya saja, itu cuma hardskill sedangkan sense of art atau softskill nya ada pada kualitas orang masing-masing. Disinilah yang namanya Orisinalitas karya fotografi gak bakalan bisa di tiru, di jiplak, karena yang namanya identitas seseorang ya milik pribadi itu sendiri. Kita bakalan tahu ini sebuah karya orisinil atau jiplakan. Trend maker atau ikut-ikutan, “Fotografi is General but Style is Personal” itu kalau saya boleh mengutip kalimat yang pernah diucapkanĀ  seorang praktisi dunia fotografi yang sudah punya kelasnya sendiri.

Dampak lainya dengan keikhlasan kita berbagi pengetahuan adalah, semakin banyak orang belajar dari kita, mereka itu adalah investasi buat kita juga asal kita betul-betul tulus mau membantu mereka yang ingin maju. Jujur saja kalau suatu saat mereka sukses, mereka ingat jasa orang yang sudah menjadikan mereka sekarang. Seperti yang penulis rasakan siapa saja dulu yang betul-betul membuat kita bisa eksis di profesi ini meskipun waktu itu cuma beberapa bulan saja, saya tidak akan lupa senior saya kala itu bahkan bertanya-tanya dimana beliau sekarang setelah 20 tahun lebih gak ketemu lagi. Sepajang karir penulis pun kalau bukan karena referensi mereka yang pernah belajar bersama dulu gak mungkin saya bisa masuk 8 perusahaan foto selama 22 tahun menyelami dunia Avatorian ini.

Jadi mungkin karena keprihatinan itulah penulis membangun komunitas melalui blog forum ini, supaya teman-teman yang merasa punya kesamaan minat dan memiliki problem di dunia kerjanya sebagai Avatorian bisa bergabung dengan kami. Dan bersama-sama membangun komunitas ini menjadi wadah kebersamaan kita. Karena itu partisipasi teman-teman sangat penting untuk ikut memberikan komentar, sharing ke FB kalian, klik like pun kami hargai karena dengan begitu keberadaan avatarfotografi ini bisa dikenal lebih luas dan misi-nya mendapat dukungan teman-teman fotografer.

Pesan Penulis
Jika anda setuju adanya manfaat dari tulisan ini, mohon berikan atensi dengan cara klik like atau share lebih baik lagi jika anda mengirim comment dibawah ini karena respon anda adalah energi buat penulis demi fotografi di negri ini.
TERIMA KASIH

Advertisements

About avatarfotografi


4 responses to “Rahasia Motret Bagus Senior Gue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: