Owner Pintar vs Owner Cerdas

image

Kalau sudah bicara tentang owner alias Boss Besar, mau dilawan pake apa pun loe orang gak bisa menang deh. Prinsipnya loe orang yang kerja Ai yang mikir emang buat apa Ai bayar you? 

Begitulah anekdot yang nyata berlaku dimana pun dan siapa pun pasti mengalaminya. Buat teman Avatorian apa yang anda pikir ketika berhadapan dengan situasi seperti itu? Sebagian pasti ada yang berfikir ”…nih boss sok tau banget sih! ” atau “…yang jalanin kan kita mereka taunya kan cuma meeting doang! “, bisa juga anda bergumam “…dijawab salah gak dijawab ngalah nih! “. Tapi bukan aneh lagi ada juga yang berfikir “…turutin aja deh apa kata maunya dari pada masalah! “, lebih parah lagi banyak juga yang “…okeh Boss okeh lah what ever Boss you are the best dah! “.

Sebagai pemilik usaha semestinya berperan lebih kepada pembuat keputusan (istilah kerennya decision maker) karena fungsi teknis strategis dan operasional adalah bagian dari staf executive dan staf opertional. Itu kalau kita bicara idealnya sebuah perusahaan sebagai suatu organisasi. Kalau ternyata peran ini masih dijalankan sang owner memang sah-sah saja wong dia yang punya duit kok! Tapi kalau hal ini berlangsung terus menerus, maka pertanyaannya adalah ” Untuk berapa lama dan sampai kapan? ” setahun? Dua tahun? Lima tahun? Atau sepuluh tahun barang kali? Kalau yang terjadi adalah “…gak ada gue perusahaan gak jalan! ” Artinya yang gak bisa kerja itu siapa? Sang owner atau karyawan?

Kembali pada prinsip entrepreneurship, karena seorang owner adalah seorang pengusaha yang misinya tidak berhenti pada mendirikan perusahaan melainkan membangun, mengembangkan, mempertahankan perusahaannya terhadap perkembangan ekonomi dan kondisi kompetitor yang semakin tajam. Jadi kalau selama merintis usahanya beliau tidak membangun leadership dengan proses delegations berdasarkan trustworthy kepada bawahannya, menciptakan budaya kerja dengan tanggung-jawab berazas rewards and punishment, maka sampai kapan pun beliau akan sibuk dengan urusan operational. Sehingga lupa pada cita-cita diawal untuk menjadi pengusaha sukses. Gak herankan kenapa banyak pengusahan bisa mulai tapi gak bisa bertahan, atau bisa bertahan tapi urusan didalam carut-marut, bongkar-pasang peraturan, dan karyawan keluar-masuk. Ini yang membuat perusahaan gak bisa expand sampai buka cabang tiga, lima, bahkan sampai keluar kota. Apalagi untuk buka franchises yang notabene bikin usaha instan, invest awal langsung buka pasti jalan, jelas prospeknya. Karena membuka franchises artinya menjual system usaha gak ada lagi urusan coba-coba. Segala sendi usaha  sudah terorganisir dengan baik dan teruji berhasil.

Padahal orang yang kerja itu tuntuannya gak berubah, satu ingin kesejahteraan meningkat tentunya sejalan dengan kemajuan usaha. Dua skill meningkat, kalau ownernya gak harus paling pinter dan tau segalanya, ya kirimlah karyawannya ke seminar-seminar biarkan skill mereka bertambah. Tiga perkembangan karir, kalau pendelegasian berjalan, terbuka tuh yang namanya karir path. Bisa aja dibuat posisi-posisi (misalkan untuk div fotografer) kepala sie-peralatan, kasie liputan, kasie indoor, kasie outdoor, supervisi “A” supervisi “B”, kabag ini, kabag itu, apalah namanya dan berikan insentive tertentu, bukan masalah nilai Rupiahnya tapi tunjukan bahwa itu sebuah kepercayaan inilah yang dimaksud reward. Agar mereka yang punya komitmen dan kemauan untuk berprestasi di apresiasi secara positif oleh perusahaan dan yang asal kerja doang biarlah menanggung malu karena gak pernah mau berkontribusi. Jangan biarkan senioritas karena masa kerja yang lebih lama, justru kompetensilah yang menjadi acuan seseorang mendapat karir yang bagus. Bangun wacana perusahaan ini adalah milik mereka juga, maju mundurnya perusahaan ada dipundak mereka berkompetisilah secara positif. Tumbuhkan rasa memiliki dalam diri mereka terhadap aset perusahaan karena kemajuan perusahaan adalah masa depan mereka juga. Buktikan hal ini secara kongkrit agar tumbuh kepercayaan bahwa mereka tumbuh dibawah pimpinan yang mengayomi dan bukan menjadikan mereka sapi perahan melainkan menjadikan mereka sebagai mitra. Jangan jadikan suasana kerja yang saling curiga-mencurigai, aduan-aduan yang punya kepentingan terselubung, mata-mata boss, tangan kanan boss, anak emas boss apapun namanya, kalau ini ada dalam perusahaan anda jangan harap karyawan akur karena alasan keempat yang menjadi tuntutan adalah suasana kerja yang kondusif, profesional, kebersamaan dan team work yang solid.

Kedengarannya mustahil dilakukan, bagi mereka pengusaha yang masih coba-coba berbisnis. Padahal contoh sudah banyak didepan mata, coba fikir bagaimana seorang pebisnis sukses mampu mengelola banyak cabang dan sampai jauh keluar pulau, dengan karyawan ratusan bahkan ribuan, tapi tetap bisa eksis aktif dengan kegiatan golfnya, kegiatan sosialnya (CSR: Company Socials Responsibility). Bahkan menikmati waktu-waktu kebersamaan dengan keluarga tercintanya. Nah kalau mau jujur semua tuntutan diatas menjadi wajar adanya karena dalam batas tuntutan yang normatif. Dengan begitu hubungan owner dengan karyawannya tidak lain adalah sebuah simbiosis mutualisma, hubungan yang saling menguntungkan. Ingat diera sekarang ini pekerja sudah semakin cerdas, wawasan berfikirnya luas, motif mereka untuk menjadi sustainable disuatu perusahaan bukan lagi karena salary dalam sekala prioritas pertama. Nyatanya banyak yang menempatkan suasana kerja sebagai alasan utama, gak perduli jabatan dan gaji lumayan mereka bisa pindah kelain hati hanya karena merasa gak asik lagi. Kalau pun pekerja setia sampai mati pasti cuma segelintir orang yang secara gak bodo-bodo amat  diajari kemudian diangkat derajatnya jadilah kerja sebagai sebuah balas budi. Dan memang gak jamannya lagi kerja itu sebagai pengabdian terhadap majikan, buktinya cari pembantu aja susah yang setia. Maaf buat pembaca yang mungkin kurang berkenan, maksud penulis disini hanya ingin mencerdaskan wawasan berfikir anda karena tidak ada pengabdian dengan loyalitas yang harus dibayar seumur hidup kalian, anda punya hak mutlak terhadap hidup anda sendiri ini bukan jaman Majapahit, kemerdekaan hidup dan kemerdekaan perasaan anda dilindungi undang-undang.

Mungkin anda berfikir kalau penulis cuma bermimpi disiang bolong, mana ada perusahan seperti itu yang mau mempekerjakan karyawan dengan memanjakan mereka. Jawabnya ada, masalahnya cuma pola pikir jadi biarlah tulisan ini menjadi pemikiran baik anda sebagai pengusaha dan anda sebagai pekerja karena andalah calon-calon business owner itu nantinya karena mungkin saat ini anda sesungguhnya sedang menunda sesuatu padahal itulah mimpi yang kamu maksudkan (Baca : Photograpreanur). Bangkit dan sadarlah dari mimpi yang gak pasti itu bangun kepastian masa depan anda dengan memulai langkah pasti apapun yang saat ini mungkin anda lakukan. Berhentilah menunda karena hidup anda saat ini adalah hasil anda menunda selama ini.

Pesan Penulis
Jika anda setuju adanya manfaat dari tulisan ini, mohon berikan atensi dengan cara klik Like atau share lebih baik lagi jika anda mengirim comment dibawah ini karena respon anda adalah energi buat penulis demi fotografi di negri ini.
TERIMA KASIH

Advertisements

About avatarfotografi


2 responses to “Owner Pintar vs Owner Cerdas

  • dewo

    pesan 1 :
    BOSS yang begitu gak pernah berpikir besar, bagaimana mau menjadi orang besar. kalau yang dipikirin cuma yang kecil2…? INTINYA, corporate culturenya tidak pernah dibangun….so ganti staf…seribu kali pun gak akan pernah ON bahwa dunia selalu berubah, berevolusi, dan berbudaya.

    pesan 2 :
    BOSS yang begitu tempat istirahatnya yang paling tepat RUMAH SAKIT JIWA, taruhan..ama gw kalau di EEG ( elektonik ensefalo graphic) akan ketahuan bibit gilanya udah kemana-mana di otaknya.

    pesan 3 :
    BUAT STAF yang punya bos kayak gitu, banyak-banyak tahajud-dhuha, biar tuhan antarkan rizki yang lebih besar, so bisa lebih dimandirikan tuhan demi kesehatan jiwa raga anak-istri di rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: