Kolam Kecil vs Kolam Besar

image

Ketika sesuatu berjalan berulang-ulang sehingga menjadi hal yang rutin, maka lambat-laun hal itu menjadi biasa, umum, standar, wajar, tidak ada yang istimewa. Pada akhirnya akan menjadi hal yang membosankan, menjemukan sampai menjengkelkan.

Dilain hal sesuatu yang rutin ini terjadi dan memberi dampak yang seringkali tidak disadari karena akibatnya adalah menjadi hal yang meninabobokan, memanjakan, menyamankan, karena menghilangkan rasa kewaspadaan, keberanian, keinginan, bahkan mengaburkan tujuan yang seharusnya dicapai.

Jika ini terjadi pada kehidupan anda di dunia kerja, dampak manakah yang anda rasakan? Jangan-jangan anda juga tidak menyadarinya karena kerutinitasan ini membuat anda seakan sudah berada di comfort zone alias kenyamanan semu, karena nyatanya anda tidak lebih baik dari keadaan anda pada 10 atau 5 tahun terakhir ini.

Karena akhirnya anda tenggelam dengan rutinitas bahkan semakin dalam terkubur dengan hal-hal yang semakin membuat anda jauh dengan cita-cita dan tujuan awal yang sempat anda torehkan di kepala anda. Itu karena anda semakin terlibat dengan hal-hal yang anda anggap asik, perlu, penting, sehingga menunda hal yang seharusnya anda lakukan.

Karena itu semakin anda tenggelam semakin anda lupa diri. Tapi jika justru selama ini anda merasakan dampak yang pertama saya sebutkan yaitu bosan, jemu, jengkel, justru perasaan tidak enak itulah yang membuat anda sadar akan tujuan anda sesungguhnya dan membuat anda ingin segera keluar dari rutinitas yang membuat anda semakin keluar jalur tsb.

Memang seringkali dirasakan untuk berbuat sesuatu dengan tujuan dan cita-cita itu sangatlah berat karena harus menyisihkan waktu dan tenaga sementara lingkungan sekitar tidak memperdulikan, cuek, asik dengan kesenangan yang ada sedangkan kita perlu memberi perhatian khusus pada sesuatu yang menjadi bahan pemikiran yaitu sumber pembelajaran. Dan kita pun mulai berdalih bukan tidak perhatian tapi menunda hal seharusnya untuk dilakukan.

Jika anda termasuk mereka yang selalu menunda, tak heranlah apabila tak ada kemajuan berarti dalam hidup anda selama ini sampai anda kehilangan sesuatu yang tak bisa lagi dibeli karena tak ada yang jual padahal tiap orang punya jatah masing-masing, yaitu ” Waktu “.

Kalau sudah sampai disini tak ada lagi yang bisa anda katakan kecuali ” Menyesal “. Sebelum ini terjadi cobalah untuk mencari dimana seharusnya anda berada saat ini? Berapa waktu yang harus anda kejar? Kemana seharusnya anda melangkah? Dengan siapa anda seharusnya saat ini berhadapan? Jika anda terpengaruh karena lingkungan cobalah pengaruhi diri anda dengan lingkungan yang memajukan bukan yang memanjakan. Lingkungan yang menguatkan bukan yang melemahkan. Lingkungan yang menyemangati bukan yang skeptis. Membangun bukan yang meruntuhkan keberanian anda.

Lakukanlah sebuah manufer, lompatan meskipun anda jatuh dan sakit ketimbang berdiam dan membuat otot semangat anda kendur. Bangkit dan jangan berhenti mencoba karena sukses tidak dihitung dari berapa kali anda jatuh melainkan berapa kali anda bangkit. Jangan cepat berpuas diri karena membuat anda enggan mencoba lagi. Janganlah menjadi ikan besar di kolam kecil biarlah menjadi ikan kecil tapi di kolam yang besar, karena lebih banyak kemungkinan yang dapat anda lakukan.

Pesan Penulis
Jika anda setuju adanya manfaat dari tulisan ini, mohon berikan atensi dengan cara klik Like atau share lebih baik lagi jika anda mengirim comment dibawah ini karena respon anda adalah energi buat penulis demi fotografi di negri ini. TERIMA KASIH

Advertisements

About avatarfotografi


2 responses to “Kolam Kecil vs Kolam Besar

  • dewo

    dunia kerja ( istilahnya masih ngebosss) bukan dunia yang sebenarnya apalagi dikatakan comfort zone, krn untuk beli rumah yang wajar sekelas tipe 45 saja tidak bisa terbeli tunai.

    dunia kerja yang kita jalani saat ini adalah pilihan, kalau kita lahir miskin jangan pernah menyalahkan orang tua kita, tapi kalau kita mati miskin itu kesalahan kita, berarti ada yang salah dengan cara hidup dan cara mengelola keuangan kita., artinya kita sudah memilih untuk mati miskin.

    dunia kerja yang sekarang kita jalani, 1 dari cara tuhan memberikan pelajaran gratis, contekan gratis agar suatu hari bisa ditiru dan diterapkan unsur2 yang baiknya, dan diperbaiki unsur negatifnya

    dunia kerja yang kita jalani saat ini adalah keberkahan-keberkahan yang sedang diujikan kepada kita, jika jalan lurus-berpikir lurus maka keberkahan itu akan ditambah lagi, tapi sebaliknya jika tindakan kita tidak lurus maka hanya kehancuran yang kita dapat.

    semoga mencerahkan kita semua.amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: