17 Kesalahan Terparah Seorang Photographer

image

 

Banyak ulasan yang bertebaran di berbagai media yang mengulas tentang bagaimana menjadi fotografer yang baik, bahkan tak jarang apa yang menurut profesional katakan pun tidak cukup untuk menjadi panduan efektif bagi para amatir. Kenyataannya memang tak ada resep jitu untuk menjadi fotografer sukses, namun ada sederet kesalahan yang umum dilakukukan para fotografer rookie ini.

Bukan berarti kalau anda menghindari ke17 daftar kesalahan berikut menjadi jaminan anda sukses. Karena kalau mau sangat mungkin daftar berikut menjadi lebih panjang. Bagaimana pun ini adalah pengalaman yang saya temui dari sekian banyak Avatorian cendrung lakukan dan tak sadari sebagai kesalahan. Sekali lagi bukan untuk memancing perdebatan, paling tidak ke17 kesalahan ini bukan satu-satunya masalah anda sukses atau tidak sebagai fotografer.

  1. Terlalu awal menyatakan anda seorang fotografer
    Image
    Gak salah sih kalau anda merasa mampu membeli digital SLR favorit dan selalu membawanya beserta gear tambahan lainnya, dengan berpenampilan cukup meyakinkan itu otomatis label fotografer langsung nempel di dada anda. Bukan untuk merusak rasa percaya diri yang demikian, tapi sebaliknya kepercayaan diri itu seharusnya terbentuk dari potensi yang anda miliki, dengan upaya untuk selalu menghasilkan yang terbaik dari setiap jepretan yang anda lakukan.
  2. Menunjukan kalau anda seorang artis
    Benar tidaknya fotografer itu tergolong artis, karena alat-alat yang digunakan selalu berhubungan dengan teknologi. Saya tak perlu ulas lebih jauh, biarlah mereka memperdebatkan ini. Yang penting adalah bagaimana anda mampu mencurahkan apa yang anda rasakan kedalam jepretan foto, dan membuat orang terlibat sacara emosional karen melihatnya. Bukan karena penampilan eksentrik anda dengan rambut gondrong/ gimbal, jeans lusuh, baju sekenanya, tatto apalagi, kalung/ gelang gigi macan, (lanjutkan sendiri deh).
  3. Membeli peralatan terlalu banyak
    Sedikit memiliki peralatan justru memancing anda untuk lebih kreatif. Memiliki banyak peralatan tidak jarang membuat anda semakin sulit memutuskan apa yang seharusnya anda bawa. Membawa peralatan secukupnya justru membuat anda lebih fokus memperhatikan apa yang ingin anda foto.
  4. Bergantung pada peralatan yang bagus untuk foto yang bagus
    Image
    Teknologi memang menjanjikan banyak kemudahan dan tingkat kelayakan optimal, tapi bagaimana dengan potensi diri anda dan pemikiran kreatifitas? Peralatan tetaplah sarana yang dapat membuat anda menjadi mungkin untuk lebih mudah menghadapi tantangan yang sulit. Tapi bukan untuk mengendalikan anda bagaimana bisa menghasilkan. Kemampuan andalah yang membuat peralatan yang ada dapat bekerja optimal.
  5. Membidik tepat di tengah komposisi
    Bedakan membidik objek foto dengan menembak objek sasaran, target kita bukan sasaran sniper tepat ditengah berarti tepat sasaran. Kecendrungan menempatkan komposisi dengan objek tepat centring ditengah bidang foto, seolah takut salah justru memberi masalah. Kaidah komposisi demikian disebut Death Centre, berkesan direct, straight, sehingga miskin akan imajinasi, ilusi, terlalu eksplisit. Cuma cocok buat pass photo. Kecuali memang itu tujuannya, dalam fotografi mengenal kaidah komposisi mengacu pada kaidah lukisan. Disana dikenal akan adanya titik imaginer yang membuat lukisan mampu membawa penikmatnya terhipnotis. The Golden Rule menunjukan adanya titik-titik tertentu dimana objek ditempatkan meski tidak ditengah tapi tetap memiliki kekuatan menarik mata untuk selalu kembali tertambat disana.
  6. Memotret selalu dari ketinggian mata (eye level)
    Image
    Karena memotret dengan posisi tubuh berdiri lebih mudah dan spontan seperti menatap langsung dengan mata kepala, kita lupa kekuatan objek kita adalah hasil interpretasi otak dan fikiran dalam mengolah informasi yang kita lihat dengan mata. Sehingga faktor 3D dimensi ruang menjadi dimensi foto yang 2D memerlukan sudut tertentu agar interpretasi fikiran tertuang dalam dimensi foto. Belajarlah berjongkok, membungkuk, merayap, bergantungan dan posisi-posisi lainya yang memang tidak nyaman, tapi dari sanalah kekuatan objek kita lebih terangkat.
  7. Edit foto berlebihan
    Hasil editan Photoshop atau lainnya telah membuat foto anda bermutasi menjadi foto rekonstruksi digital, tidak mencerminkan pekerjaan seorang fotografer. Melainkan pekerjaan seorang animator digital. Fotografi hanya menjadi alat penyedia stock image saja. Kecuali anda sendiri yang melakukan semua pekerjaan itu, jangan pernah merasa bangga akan hasilnya.
  8. Jatuh cinta dengan fotoan anda sendiri
    Sering kali foto yang kita suka belum tentu foto yang terbaik, karena kita cendrung subjektif ketika menilai jepretan sendiri. Biarkanlah orang menilai sendiri apapun pendapatnya tentang foto tersebut. Jangan pernah takut mendengar kritikan atau komentar negatif dari mereka jujurlah pada diri sendiri jika pendapat orang benar atau salah.
  9. Menerima job yang tidak sesuai kemampuan anda
    Berbeda dengan keberanian menerima tantangan. Jika anda dibayar untuk suatu ekspektasi dan hasilnya tidak sesuai, bukan hanya klien yang kecewa anda pun sudah merusak nama dan brand anda sebagai investasi. Tunjukan apa yang sudah pernah anda capai, biarkan klien anda menilai kemampuan anda, sampai anda percaya kalau anda mampu.
  10. Menawarkan diri untuk melakukan secara gratis
    Klien yang membayar anda artinya membeli bakat, nilai dan pengalaman anda. Gratis membuat orang tidak menilai itu semua melainkan semakin sungkan menunjukan kekurangan anda. Bukan berarti anda harus begitu komersilnya sampai saudara sendiri juga harus bayar. Paling tidak ada biaya atas apa yang anda keluarkan diluar skill anda sebagai fotografer. Dengan begitu orang akan menilai berapa sebetulnya nilai kemampuan anda dibanding orang lain.
  11. Menunggu waktu dan cuaca yang baik
    Memang ada kesempatan mendapatkan moment yang baik, kadang menunggu kesempatan yang belum tentu datang membuat anda tidak menghasilkan sesuatu. Berimprovisasilah untuk sesuatu yang tak direncanakan, karena anda harus dapat sesuatu atas usaha yang anda lakukan meski bukan hasil yang optimal.
  12. Miskinnya pengetahuan tentang lighting
    Image
    Meskipun fotografi artinya melukis dengan cahaya, tapi banyak yang memahaminya sebagai  under dan over saja. Saya belajar tentang lighting yang ternyata memiliki tak kurang dari 7 macam, dengan efek kesan yang berbeda-beda dan masih ada 5 faktor karakteristik, juga adanya 2 faktor color tone yang ikut berperan. Jadi mulailah menjadikan lighting ini lebih dari faktor berapa lampu yang kita gunakan, atau seberapa canggih alat yang kita miliki.
  13. Ikut workshop mahal
    Image
    Mendapat didikan yang tidak relavan dengan biaya tinggi, malah menjadikan anda sesat akan pemahaman tentang apa yang menjadi target sesungguhnya sebagai fotografer. Sesat karena anda dicekoki peralatan yang belum tentu anda butuhkan bahkan belum tentu anda mampu membelinya. Workshop atau Rally Photo dengan super model terkenal, lokasi bergengsi, komunitas mimpi, yang membius seolah anda sudah menjadi fotografer handal. Pertimbangkan dengan bijaksana bagaimana mendapat ekspektasi yang realistik dengan kemajuan yang akan anda dapatkan dibanding biaya dan infestasi yang anda keluarkan.
  14. Meniru terlalu banyak, mencipta gak pernah …….ter….la….lu
    Gunakan intuisi carilah inspirasi, siapapun telah berkarya dan anda terkesima karenanya, gunakanlah sebagai cara bagaimana melihat orang lain mengolah ide menjadi sebuah tema dan berkonsep melalui elemen-elemen yang terlibat didalamnya. Memang tipis sekali garis yang memisahkan antara meniru dan sebuah hasil interpretasi seseorang. Percayalah di dunia ini tidak ada yang orisinil dicipatakan orang, semua pasti terinspirasi karena apa yang sudah diciptakan sebelumnya. Pesan orang bijak adalah Amati, Tiru, Modifikasi (ATM).
  15. Tak punya kemampuan berbisnis
    Siapa bilang tak ada kaitan antara fotografi dan bisnis? Jika anda pikir fotografi sekedar hobby, pikirlah lagi hobby anda ini, jelas bukan hobby yang murahkan? Pikirlah lagi bagaimana jika hobby anda menghasilkan dan hasilnya untuk membiayai hobby itu pula. Tentu pasangan anda tak perlu bertanya dari mana anda membeli peralatan baru itu semua, karena bukan dari gaji anda. Bagi anda yang memang niat berbisnis di fotografi, jadikanlah kemampuan berbisnis anda selalu satu tingkat diatas kemampuan fotografi anda.
  16. Menikmati pemotretan menelantarkan data pemotretan
    Mengelola hasil pemotretan adalah bukti anda menuntaskan apa yang menjadi passion anda. Tak jarang setelah jeprat-jepret selesai, selesai juga urusan. Padahal yang penting adalah hasil jepretan dimana anda dibayar untuk itu. Apalagi kalau dengan uang ketika anda melakukannya secara komersil jika tidak, sebuah pengakuan pun merupakan bayaran atas usaha anda. Melakukan manajemen data adalah juga investasi atas nama atau brand anda.
  17. Menganggap fotografer lain adalah musuh
    Keberhasilan orang lain seharusnya menjadi cambuk bagi diri sendiri agar dapat berintrospeksi terhadap kekurangan yang anda miliki. Sebaliknya menyadari potensi sendiri seharusnya menjadi inspirasi apa yang harus anda lakukan. Berbagi dan menjadi bagian dari komunitas ini jauh lebih menarik dari pada sikap memusuhi. Bertemu dengan banyak orang adalah kesempatan yang tercipta dari profesi ini. Tidak semua orang mengasikan memang. Mendapat pengalaman baru dan bertumbuh bersama mereka membuat anda belajar melihat diri sendiri.

 

Avatarfotografi 2013

Inspired by Sergiu Aursulesei

Photography Talk

Advertisements

About avatarfotografi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: